About

Sejarah Singkat

Gereja Pantekosta Isa Almasih, disingkat GPIA berdiri pada tanggal 28 Juli 1952. Berkedudukan dan berpusat gereja induk di Jl. Perniagaan 39 Jakarta Barat - Indonesia. Gereja Pantekosta Isa Almasih adalah persekutuan dari gereja-gereja yang tergabung dalam satu sinode.

Sejarah Gereja Pantekosta Isa Almasih tidak bisa lepas dari missionaris Rev. Cornelius E. Groesbeek dan Rev. Richard Dick van Klavern karena mereka adalah perintis/missionaris bagi gereja-gereja Pantekosta di negara kita Indonesia pada umumnya.

Pada tanggal 4 Januari 1921 dengan kapal Suwa Maru dari Seattle, Amerika Serikat, kedua missionaris Pantekosta ini berangkat ke negara Indonesia

Bulan Maret 1921 mereka tiba di Batavia (Jakarta) kemudian langsung menuju pulau Bali. Satu setengah tahun lamanya mereka melayani dengan mujizat-mujizat Allah, namun peta politik dari pemerintah Hindia Belanda pada masa itu menghendaki agar pulau Bali dipertahankan identitas kebudayaannya.

Pada akhir tahun 1922 kedua missionaris tersebut berangkat menuju kota Surabaya. Setelah beberapa minggu di sana, kemudian Rev. Richard Dick van Klavern menuju Batavia (Jakarta) dan Rev. Cornelius Groesbeek ke Cepu.

Rev. Richard Dick van Klavern membuka kebaktian (pos pekabaran injil) di Jl. Pecenongan No. 54, Jakarta. Pelayanan tersebut berkembang dengan membuka cabang di beberapa tempat antara lain pada tahun 1927 dibuka cabang Gereja di Jl. Patekoan No. 39 (sekarang Jl. Perniagaan), Jakarta Barat.

Untuk Pelayanan jemaat di Patekoan, Rev. Richard Dick van Klavern dibantu oleh Br. Klerks dan Zr. Bowerr. Di antara warga jemaat saat itu yang paling menonjol kesungguhan iman dan pengabdiannya ialah Bapak Lim Hong Seng. Kemudian mulai tahun 1935 pelayanan jemaat dilanjutkan oleh Bapak Pdt. Lim Hong Seng.

Tahun 1969 rangkaian estafet berikutnya diteruskan oleh Bapak Pdt. Samuel Budhi. Dengan meninggalnya Bapak Pdt. Dr. Samuel Budhi pada tanggal 21 Oktober 2000 estafet pelayanan penggembalaan diteruskan oleh istrinya, Ibu Pdt. Dr. Hanna Triyanti Budhi hingga kini.